IKLAN

Menhub Beri Sanksi 5 Maskapai Pasca Tragedi AirAsia QZ8051

61 Penerbangan Dibekukan, Investasi Manado Terganggu? Ini Tanggapan Warga Sulut


air asiaJAKARTA— Kementerian Perhubungan (Kemnhub) menjatuhkan sanksi kepada 5 maskapai penerbangan karena melanggar izin penerbangan. Sanksi diberikan dengan membekukan 61 penerbangan dari maskapai tersebut.

Dalam jumpa pers di Kementerian Perhubungan, Jumat (9/1), Menhub Ignasius Jonan menyatakan, maskapai itu meliputi Garuda Indonesia, Lion Air, Wings Air, Trans Nusa, dan Susi Air. “Garuda ada 4 (pelanggaran penerbangan), Lion Air ada 35, Wings Air ada 18, Trans Nusa ada 1, dan Susi Air ada 3,” kata Jonan, Jumat sore.

Jonan tidak menyebutkan rute-rute penerbangan yang dibekukan tersebut. Ia mengatakan, maskapai-maskapai tersebut dapat mengajukan izin penerbangan dan akan segera diproses untuk membuka kembali sanksi pembekuan tersebut. “Sanksi pelanggaran tidak boleh terbang dan kami meminta maskapai tersebut untuk mengajukan izin secepatnya,” kata Jonan.

Bagaimana tanggapan masyarakat Sulut, salah satu daerah yang banyak menggunakan jasa penerbangan karena urusan bisnis? Medi Mangare, warga Kumelembuai, Minsel sangat mengapresiasi kebijakan Menhub tersebut. Alasanya, kana selama ini Kemenhub dinilainya banyak pungli dengan memanfaatkan jasa penerbangan. “Kebijankan itu memangkas tindak korupsi. Karena ini banyak terjadi sampai Menhub di pemerintahan sekarang membatasi penerbangan yang diangap ada penyimpangan.’’ Ujar Mangare.

Akan halnya Teddy, warga Manado yang tinggal di Samrat. Hanya saja, dia meminta jangan sampai keputusan Menhub Ignasius Jonan tidak konsisten. “Jangan sampai peraturan ini ditarik kembali. Karena Negara kita ini hancur disebabkan banyak pejabat yang mengeluarkan kebijakan tidak konsisten,’’ ujarnya.

Denny Parengkuan, warga Airmadidi pun mengapresiasi kebijakan Kemenhub tersebut. Dia menilai, apa yang telah dilakukan Menhub Ignasius Jonan sangat menunjang kegiatan penerbangan di Indonesia yang saat ini citranya mulai rusak akibat banyak kecelakaan.

“Iya. Karena mantenes pesawat itu sangat tinggi. Kalau tiket murah, akan berdampak pada perawatan pesawat. Mantenennya jadi asal-asalan.,’’ kata Parengkuan.

Akan halnya soalnya safety pesawat. Banyak maskapai penerbangan tidak terlalu memikirkan. “Misalnya soal cargo. Saya beberapa kali naik pesawat ada cargo yang melebihi kapasitas tapi pencatatannya tidak sesuai. Cargonya lebih, tapi masuk pada catatan penumpang,’’ ujar perengkuan yang mengaku beberapa kali terbang ke Manado-Singapura, Jakarta dan Batam untuk urusan bisnis.

Untuk itu, dia meminta Kemenhub mengawasi atau menyelidiki sejumlah Airport. “Karena sering terjadi permainan kelebihan cargo yang dibawa penumpang. Begitu juga untuk kenaikan harga tiket, harus didukung karena itu untuk kepentingan mantenens pesawat dan pengembangan perusahaan maskapai,’’ pungkasnya.(kompas/anto reppy)

IKLAN
loading...