DP3A Sulut Rangkul Mahasiswa, Kementerian PPPA Bilang Begini

(Kepala DP3A Sulut Ir Mieke Pangkong, MSi saat memberikan materi kepada mahasiswa yang mengangkat tema “Peran Mahasiswa dalam Perlindungan Anak Indonesia” di ruang WOC Kantor Gubernur, Jumat (4/5/2018) (foto:kandi/ML)

MANADO– Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulawesi Utara (Sulut), mengangkat peran mahasiswa dalam perlindungan anak Indonesia dalam diskusi tematik dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

Menteri PPPA, Prof. DR. Yohana Susana Yembise, Dip.Apling, MA diwakili Staf Khusus Kementerian PPPA Benny Arnoldo Naraha, S.pd.K mengatakan mahasiswa dan Kementerian PPPA harus saling melengkapi dan mengajar.

“Salah satunya yang harus dipikirkan bersama yaitu keluarga mempunyai peran penting,”terang Naraha didampingi Kepala DP3A Sulut Ir Mieke Pangkong, MSi didepan puluhan mahasiswa saat diskusi “Mengangkat Peran Mahasiswa dalam Perlindungan Anak Indonesia” di ruang WOC Kantor Gubernur, Jumat (4/5/2018) siang.

Selesai program diskusi tersebut pihak Kementerian PPPA dan DP3A Provinsi berharap akan ada kelanjutannya.

“Sampai kapanpun harus ada kampung binaan. Tujuannya agar akhiri kekerasan terhadap perempuan, akhiri perdagangan orang, akhiri kesenjangan ekonomi perempuan,”lanjut Naraha.

Diketahui, dasar hukum terkait perlindungan anak terdapat dalam Pasal 20 UU No.35 Tahun 2014 tentang Tanggung Jawab bersama Perlindungan Anak, Pasal 72 UU No. 35 Tahun 2014, tentang Perlindungan Anak.

Mengapa mahasiswa? Pangkong beralasan mahasiswa dekat dengan anak (dari segi usia, komunikasi dan psikologi, mahasiswa sebagai iron stock, agent of change dan social control, mahasiswa lebih berpotensi dari segi mobilitas, kuantitas dan kualitas.

Selain itu lanjut Pangkong, menjadi sorotan mahasiswa soal bahaya laten atau bahaya yang tidak tampak dipermukaan. Misalnya berbagai pengaruh negatif NAPZA, dan miras, pedofilia, LGBT, kekerasan, pelecehan seksual dan seks, kecanduan internet/game online, perdagangan manusia.

Pangkong memberikan solusi beberapa bentuk peran manusia dalam menjauhi dan menghindari kekerasan perempuan untuk melindungi anak yakni bonding activities.

“Kegiatan rohani, aksi lingkungan, kesenian, olahraga, membuat meme positif, video blog (vlog), perlombaan dan seterusnya. Untuk berkegiatan positif dan sebagai media penyuluhan dalam meningkatkan ketahanan anak dan keluarga dari pengaruh negatif,”kuncinya.

Diskusi tematik dihadiri puluhan mahasiswa utusan Universitas Sam Ratulangi Manado (Unsrat), Institut Agama Islam Negeri Manado (IAIN), Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Manado.

(srikandi)