IKLAN

Ini Penyebab Wanita Manado Jadi Wanita Penghibur


wanita penghibur-ilus2MANADO- Tidak banyak hasil penelitian yang menjelaskan penyebab wanita Manado terjun ke dalam dunia prostitusi maupun bekerja sebagai wanita penghibur.

Namun data yang diambil secara random dengan sampel wanita penghibur yang bekerja di tiga kelab malam di Kota yang terkenal dengan 3B (bibir, bubur dan Bunaken) ini memberi alasan yang berbeda. Wanita yang namanya disamarkan ini mempunyai alasan masing-masing.

Rani (27), gadis manis yang telah 2 tahun menjalani pekerjaan sebagai wanita penghibur di Pub yang berada di kawasan Malalayang menyatakan jika alasan dirinya melakoni profesi tersebut karena alasan ekonomi.

“Dulu saat masih kecil, saya tidak bisa memiliki barang mainan yang dimiliki teman saya yang lain, karena orang tua saya tergolong tidak mampu,” cerita gadis berambut panjang ini kepada tengah hingar bingar musik disko, Sabtu (17/2).
Dengan gayanya yang centil, wanita yang mengenakan gaun tipis tersebut mengatakan jika faktor tersebut yang kemudian memaksa dirinya untuk terjun ke dunia malam.

“Sekarang enak bisa beli pakaian yang saya suka, barang yang saya pengen dan kebutuhan lainnya,” ujar dia polos.

Tak seperti Rani, profesi sebagai wanita penghibur yang kini dijalani Lucy (20), disebabkan karena broken home. Orang tua yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing membuat pergaulan anak tidak dapat dikontrol dengan baik. Akibatnya, Lucy bergaul tanpa pengawasan.
“Awalnya ikut-ikutan teman. Lama-lama sepertinya saya menemukan kesenangan diri. Enak, have fun,” tuturnya tersenyum, saat ditanya di sebuah Kafe yang terletak di kawasan Jalan Piere Tendean, Boulevard.

Tutur kata wanita muda ini ceplas-ceplos. Meski wajahnya tergolong cantik dengan mata oriental dan nada bicara yang sopan, perempuan yang mengaku warga Minsel ini terkesan tomboy.

“Orang tua udah bosan negur saya tapi jawaban saya, kenapa negur sekarang? Dulu gak pernah merhatiin saya?” ketusnya sambil menaruh kakinya ke atas sofa tempat duduk.

foto ilus

foto ilus

Kurangnya perhatian orang tua ke anak turut memberi sumbangsih bagi merebaknya profesi sebagai wanita malam di Kota ini.
Sampel terakhir ditemui di sebuah pub yang berada kawasan Marina Plaza, Cicil (30), wanita yang mengaku indekos bersama ibu dan seorang putranya di Kelurahan Karombasan, Kecamatan Wanea, mengaku perceraian dengan suami menimbulkan dendam pribadi.

“Saya kecewa dengan suami saya yang telah menceraikan saya hingga saya terjun ke dunia yang sangat tidak disukainya ini,” tuturnya. Rasa dendam mendera hidupnya membuat ia hidup dari uang pemberian lelaki yang dilayaninya setiap malam selain komisi minuman per botol yang diterima setiap bulan.

“Uang tip yang diberikan tamu bervariasi. Kadang Rp 50 ribu kadang lebih,” tuturnya.
Diakuinya, busana minim dan menggelayut manja di leher pria yang ditemani merupakan tips merogoh kocek tamu. Bahkan sesekali ia harus melayani nafsu seks mereka.

“Sebenarnya ini bukan pilihan hidup saya, tapi mau gimana lagi. Sekarang sudah terlanjur dan saya gak tau caranya keluar dari dunia ini. Yaa.. Nikmati aja,” terang Cicil sambil tertunduk.

Kulit putih ditambah wajah yang cantik khas perempuan Manado menjadi daya tarik utama lelaki hidung belang. Ini yang membuat para germo selalu membidik mereka untuk dipekerjakan meraup rupiah di sejumlah tempat hiburan malam. (ar/mc)

IKLAN
loading...