IKLAN

Sidang Perkara Korupsi RTJK Liandok

Istri Terdakwa Korupsi RTJK Liandok Protes JPU, Minta Sejumlah Nama Ikut Diproses Hukum


foto ilus

foto ilustrasi

MANADO – Ada yang menarik di persidangan korupsi Rumah Transmigrasi dan Jamban Keluarga Desa Liandok, Minahasa Selatan (Minsel) pada Senin (02/05).

Sidang agenda pembelaan dari tiga terdakwa yakni Jefry Prang, Denny Kondoy dan Joel C H Kumajas itu, menjadi menarik setelah selesai persidangan, istri terdakwa Joel C H Kumajas mempertanyakan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yosephus Ary Sepdiandoko tentang nama-nama yang disebut di persidangan sebagai orang yang juga menikmati dana Liandok.

“Pak bagaimana ini pak, masa suami saya yang tidak menerima apa-apa dalam kasus ini malah di hukum, sedangkan mereka yang sempat di sebut-sebut di persidangan pernah terima uang, malah tidak di proses” keluh istri Joel.

Dari keluhan tersebut, JPU angkat bicara. ” Mereka semua akan diperiksa. Saya tidak akan banyak bicara soal ini, nanti lihat saja” ujar Yosephus.

Sementara itu ketiga terdakwa dalam kasus ini, dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Jemmy Lantu, mengajukan pembelaan melalui Penasehat Hukum mereka. Dalam pembelaan tersebut, ketiga terdakwa nyatakan ingin bebas dari segala tuntutan JPU.

Dimana sebelumnya, oleh JPU, terdakwa Joeh CH Kumajas dan Jefry Prang, JPU dituntut penjara selama 7 tahun dan denda Rp200 juta. Sedangkan terdakwa Denny kondoy dituntut 9 tahun penjara, denda Rp200 juta, dan dibebankan dengan membayar kerugian negara sebesar Rp2 miliar lebih.

Sandaran tuntutan JPU tersebut, berdasar pasal pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI No 31 tahun 1999.

Sekadar diketahui, dalam kasus ini, ketiga terdakwa harus terseret hingga ke meja hijau, karena pada tiga tahun lalu, terlibat praktek korupsi proyek RTJK di Desa Liandok. Dalam proyek tersebut, dana yang dianggarkan berdasarkan DIPA-026.06.4.179026/2013 sebesar Rp6.753.475.000, dan direvisi lagi lewat DIPA nomor DIPA-026.06.4.179036/2013 dengan jumlah Rp6.666.439.000.

Sayangnya, dana yang digunakan sebagai proyek RTJK untuk 100 unit tipe 36, terpakai hanya sebesar Rp3.478.500.000.
Tim Kejangung RI, yang turun langsung mengusut kasus ini, berhasil mengungkap adanya kekurangan pekerjaan, sehingga bobot pekerjaan RTJK yang dilaksanakan Elfian Pangalila selaku Direktur Utama PT Andrekon Cipta Pratama hanya mencapai 65.05%.

Herannya, terdakwa Kondoy yang merupakan mertua Elfian, langsung mengajukan permohonan pembayaran 100%, dan disetujui terdakwa Kumajar selaku PPK dan terdakwa Prang selaku Kuasa Pengguna Anggaran. Terdakwa Kondoy pun menerima pembayaran termin III (100%) sebesar Rp1.042.478.400 dengan retensi (5%) sebesar Rp162.887.250 melalui rekening PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Manado. Akibat perbuatan para terdakwa itu, negara harus mengalami kerugian sebesar Rp2.491.577.176,26. (ekaputra)

IKLAN
loading...