Kasihan…Mengaku Dapat Makanan Basih dan Sering dikurung Dalam WC, Tunanetra Ini Mengadu ke DPRD

Anggota Legislator Komisi A DPRD Manado Arthur Paath saat menerima keluhan para tunanetra.

MANADO — Perlakukan tidak wajar dan sangat tidak manusiawi dilakukan salah satu Panti Asuhan di Kota Manado. Pasalnya, beberapa orang tunanetra mendatangi Kantor DPRD Kota Manado, Rabu (6/9), mengadu diperlakukan sangat tidak manusiawi seperti sering diberi makanan basih dan dikurung dalam toilet/WC.

Rombongan tunanetra asal Panti Asuhan Bertemeus yang bernaung dibawah Yayasan Wenas ini waktu setiba di kantor DPRD Manado dan diterima legislator Komisi A Arthur Paath, mengakui sudah tidak tahan dengan perlakuan para pengurus Panti Asuhan yang sudah tidak manusiawi.

“Kami sudah tidak diperlakukan dengan manusiawi oleh petugas di Panti Asuhan. Mereka sering melakukan tindakan yang sudah lewat batas. Seperti, sering diberikan makanan yang sudah basih dan tidak layak dimakan,” ujar Paath, mengulangi pengakuan para tunanetra.

Lanjut dikatakan, selain diberikan makanan basih, para tunanetra ini juga mendapatkan perlakuan kasar dari pengurus Panti Asuhan. Yang paling sering, pengurus selalu mengurung para anak-anak panti di dalam kamar mandi atau toilet.

“Selain dikasih makanan basih, ada juga tindakan dari pengurus panti yang menghukum anak-anak panti seperti memasukan mereka kedalam kamar mandi atau WC dan tindakan lainnya. Yang menurut saya itu perlakuan yang tidak pantas dan sangat miris dilakukan pada anak-anak panti dan tunanetra yang merupakan tindakan yang sangat tidak manusiawi,” tegas Paath.

Sambungnya, tindakan tersebut sangat disayangkan, berhubungan Panti tersebut diketuai oleh seorang Ibu Pendeta. Yang mana, Panti Asuhan Bertemeus ini milik GMIM lewat yayasan Wenas.

Tambahnya, sangat kaget dengan laporan itu, sehingga meneruskan saudara-saudara tunanetra/disabilitas ke komisi yang membidangi masalah sosial yaitu komisi D.

“Saat itu, saya langsung ketemu dengan Ketua Komisi D dan pribadi meminta agar secepatnya melakukan sidak ke panti dan mengecek langsung keadaan yang sebenarnya. Apalagi, menurut keterangan semua penghuni panti, sangat menginginkan perbaikan atau pergantian pengurus panti karena bekerja sudah tidak profesional,” tukas Paath.

Pungkasnya, terkait masalah itu perlu ada upaya pemerintah dan Sinode GMIM untuk melakukan upaya perbaikan managemen. Agar, para penghuni panti yang rata-rata tuna netra ini mendapatkan keadilan dan kesejahteraan. (Sten)