Mata Air Tertimbun Galian C, Tateli Raya Terancam Krisis Air Bersih

MINAHASA-Komisi IV DPRD Sulut, akhirnya menindaklanjuti hasil hearing dengan masyarakat Tateli Raya Kecamatan Mandolang bersama perusahaan Galian C dengan berkunjung langsung ke lokasi pertambangan, Senin (4/2/2019).

Mata air yang sudah tertimbun batu.

Dipimpin Ketua Komisi James Karinda bersama anggota Komisi Inggried Sondakh, Herry Tombeng, Meiva Salindeho Lintang, Lucia Taroreh dan Fanny Legoh meninjau 3 lokasi pertambangan batu yang ada di Desa Tateli Raya.

Sebelum melakukan Check On The Spot, Komisi IV  menyempatkan diri melakukan pertemuan bersama Camat Mandolang serta Hukum Tua Tateli Raya dan masyarakat bersama pekerja Tambang Batu.

Komisi IV bersama Dinas Lingkungan Hidup didampingi Perusahaan Tambang SKJ melihat langsung lokasi mata Air.

Dari pertemuan tersebut, Komisi IV mendapat banyak sekali masukan dan keluhan dari tiga Hukum Tua Tateli Raya. Seperti penuturan Basir Naingolan Hukum Tua  Tateli II, akibat dari Galian C  menyebabkan hujan beberapa hari lalu, ada beberapa rumah yang terkena banjir.Banjir ini kembali terjadi akibat dari  galian tambang,  tidak ada resapan, akibatnya air  mengalir ke jaga I dan Jaga II serta Jaga V lorong Sakura.

“Harus dibuatkan Bendungan, penanaman kembali pohon, buatkan tiga pintu. Jika ini tidak dibuat maka banjir akan terjadi lagi,” ungkap Naingolan.

Stenly Gumalang Hukum Tua Desa Tateli III, prihatin karena draf kesepakatan yang dibuat oleh Pemprov bersama dengan pihak Penambang dan masyarakat  sejak tahun 201616-2019 belum terlaksana sampai sekarang ini.

” Jika perusahaan melakukan Galian C dekat mata air segera dihentikan. Karena jika ini dibiarkan Tateli Raya akan krisis air bersih,” jelas Gumalang.

Nah, ketika Komisi IV melakukan Check On The Spot, James Karinda miris melihat  mata air  yang dipakai oleh masyarakat Tateli Raya sudah tertimbun  Galian.

“Sebagian besar dari 22 perusahaan tidak memiliki ijin, ini yang akan kami telusuri. Kami berikan waktu 1 bulan. Komisi IV akan selalu melakukan pengawaaan. Jika tak miliki ijin, maka kami akan rekomendasikan ditutup,” tegas Karinda.

Dari hasil kunjungan dan tatap muka pihak perusahaan,  masyarakat dan anggota dewan, ternyata hanya perusahaan Sederhana Karya Jaya (SKJ) yang sering memberikan bantuan kepada masyarakat, maupun gereja lewat CSR nya. (mom)