IKLAN

Features

Mengemis 40 Tahun, Hingga Kaki Tak Fungsi


Wati Tani (74), penghuni lorong terminal Karombasan. Kesehariannya mengemis, keadaan kaki terlipat jadi ciri khasnya, Senin (1/9) (foto:Kandi/manadoline)

Wati Tani (74), penghuni lorong terminal Karombasan. Kesehariannya mengemis, keadaan kaki terlipat jadi ciri khasnya, Senin (1/9) (foto:Kandi/manadoline)

Cara instan, cepat dapat sesuatu, raut pengasihan mempermudah pengemis semakin mendalami profesinya. Uniknya, selama 40 tahun tekun jadi peminta-minta di lorong terminal Karombasan, hingga fisiknya dipaksakan.

================

Aktivitas di terminal Karombasan Manado ramai mulai pagi sekira pukul 07.00 Wita. Banyak orang mulai berdatangan untuk menggunakan jasa angkutan umum, tujuan ke beberapa tempat dibagian Minahasa pada umumnya.

Situasi semakin panas dan sempit ketika masuk pukul 10.00 Wita, pasalnya cuaca kemarau beberapa bulan terakhir dan orang-orang berburu waktu pergi ke tempat kerja, tak disadari semakin banyak orang terburu-buru naik mobil berplat kuning tersebut.

Ada bisikan tak terduga dari pedagang buah Bajo (50-an) dekat lorong itu.”Ada kakek tak berdaya tapi masih saja dipaksakan fisiknya meminta-minta,”curhat Mas Bajo.

Ternyata benar, ketika langsung ditemui www.manadoline.com pagi itu Senin (1/9) di lorong terminal tepat depan Koramil Karombasan Kecamatan Wanea. Kakek bernama Waki Tani (74) warga Batu Kota, Winangun Manado.

Suaranya serak dan tak terlalu jelas alunan kata-katanya, kedua kakinya tak berfungsi lagi, badan kurus kelihatan terlihat kelaparan saat cicipi satu bungkus roti.

Tas gendong tak mau lepas dari badanya, entah isinya uang atau makanan tetapi terlihat jelas tak terasa berat dipikulnya, sampingnya kotak isian uang. (Bersambung)

IKLAN
loading...