“OD dan Sejarah Jalur Rempah di Babak Akhir Yang Dramatis”

Oleh : Albert P Nalang

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey (OD) bersama Istri tercinta Rita Tamuntuan, mereka berdua nampak seketika memandangi  hamparan bunga cengkeh di kebunnya yang sedini mulai menguning.

Pada garis-garis senyum mereka kian menegaskan bahwa musim panen cengkeh sudah tiba. Suami Istri ini sangat girang bukan main, meski panen cengkeh tahun ini dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Dikatakan Gubernur Olly Dondokambey, jika bunga cengkeh tidak di petik sekarang, kelak hasilnya berdampak kurang baik. Itu sudah menjadi kosekuensi logis.

“Prinsipnya bahwa, pemetikan bunga cengkeh baik dilakukan pada saat kepala bunga cengkeh masih tertutup dan mengkilap.

Dikisahkannya, Rempah dari tanah Timur Nusantara, tak saja punya kisah panjang dan dramatis. Namun berperan signifikan dalam membentuk sejarah peradaban maritim dunia. Kini dikenal sebagai Jalur Rempah.

“Utamanya Banda dan kepulauan Maluku. Namun, pala dan cengkeh hingga kini masih tumbuh subur di Sangihe Talaud dan Minahasa. Tanaman endemik Timur Nusantara ini tercatat sudah merajai pasar dunia sejak era yang sangat tua.

Sebelumnya, sejumlah petani di Sulut mengeluh karena harga cengkeh tidak sesuai dengan yang diharapkan.

“Gubernur Olly merespons keluhan petani cengkeh. Kalu (harga cengkeh) murah pigi bawa ke rumah, pak gub beli,” sahut Gubernur Olly kepada sejumlah media di Lobi Kantor Gubernur Sulut, Rabu (08/07/2020) sore.

Di penghujung babak akhir masa jabatan periode pertama 2015-2020 yang mempesona ini Gubernur Olly Dondokambey, Cengkeh seperti enggan berbunga. Padahal, bunga semestinya sudah merekah dan buah menunggu matang menjelang masa panen pada Juli hingga Oktober setiap tahun.

“Meski demikian, bukan berarti tidak ada masalah. Petani kerap menjumpai hama menyerang menjelang waktu panen. Akibatnya, hasil panen tak maksimal.

Menghadapi masalah ini, tidak banyak pula yang bisa dilakukan petani.

Sepertinya saya harus mengikuti apa yang dilakukan orang-orang tua kami kalau hama menyerang. Daun-daun yang gugur kami kumpulkan di bawah pohon, lalu kami bakar. Dengan pengasapan itu, sedikit-sedikit hama bisa hilang walau tidak hilang seluruhnya,” ujarnya

Sedikit Mengkisahkan dalam  kutipan media barta1.com – dengan judul berita Sejarah Jalur Rempah, Era Mesir Kuno Hingga Catatan Brilman. Bahwa

Perdagangan rempah di Nusantara juga secara masif meninggalkan jejak peradaban yang signifikan berupa peninggalan situs sejarah, situs budaya, hingga melahirkan beragam produk budaya yang terinspirasi dari alam Nusantara yang kaya.

Tampak sekali, di masa lalu orang-orang berbagai bangsa berbondong-bondong ke Nusantara tidak semata untuk berdagang, tetapi lebih pada untuk membangun peradaban.

Dalam catatan D. Brilman, seorang misionaris Eropa yang pernah bertugas di Sangihe Talaud sejak 1927 disebutkan, pada bulan September 1509 beberapa kapal Portugis di bawah komando Diego Lopez de Sequaria telah berangkat ke Asia Timur, di mana mereka tiba di Makal, melalui sebut Hindia Belanda.

Pada tahun 1511 mereka merebut kota dagang Malaka yang sangat maju, di bawah pimpinan d’Albuquerque sendiri. Di kota ini, dimana seorang Uskup ditempatkan di bawah Uskup Agung dari Goa, maka orang Portugis menemukan rempah-rempah yang berasal dari Hindia yang diperdagangkan di tempat itu, namun mereka belum sampai ke negeri asalnya.

Baru pada bulan Desember 1511 beberapa kapal di bawah komando Antonio d’Abreu di kirim oleh d’Alburqueque dengan maksud untuk menemukan negeri rempah yang sangat diharapkan itu.

Masih belum berahkir tahun 1511, sampailah armada ini di Gresik,di pulau Jawa, dan dari sana mereka ke Banda, dimana waktu itu untuk pertama kalinya orang Eropa membeli rempah-rempah langsung dari orang pribumi penghasilnya. Hubungan antara Eropa dengan Maluku telah di mulai.

Pada perjalanan kembali armada ini, maka beberapa kapal, di bawah komando Fransisco Serrao dilanda angin dan arus sehingga kehilangan arah dan tiba di pantai Hitu, jazirah utara pulau Ambon.

Disini mereka membantu penduduk negeri itu untuk melawan musuh mereka di Hoalmoal, dalam kesempatan mana mereka berjuang dengan begitu perkasa,sehingga nama mereka segera menjadi tersohor juga di pulau-pulau sekitarnya.

Pada tahun itu kekuasaan atas pulau-pulau yang kecil ini berada di tangan sultan-sultan dari Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo yang saling berjuang antar mereka untuk mencapai kekuasaan tertinggi. Terlebih antara kesultanan Ternate yang kecil dengan kesultanan Tidore yang sama kecilnya terdapat suatu persaingan yang hebat.

Sultan-sultan kedua pulau itu, tulis Brilman, sangat menginginkan agar para ksatria asing itu dapat dilihat di dalam keratin mereka. Sultan Ternate pada saat itu sudah yang paling berkuasa, mendahului rekannya dari Tidore dan mengundang mereka untuk berkunjung.

Undangan ini diterima dan pada tahun 1512 ketika Serrao dengan para pengikutnya tiba di Ternate, orang Portugis memasuki suatu daerah dimana mereka bertahun-tahun lamanya dapat bertahan, daerah yang juga bertahun-tahun lamanya menjadi pusat ketiga kegiatan yang terkenal pada waktu itu, yakni pemerintahan, perdagangan dan pekabaran injil.

Pada mulanya, ungkap Brilman, orang Portugis tidak menganggap wilayah-wilayah ini sebagai suatu wilayah jajahan baru. Jauhnya jarak dari Malaka dan Goa rupanya telah menjadi salah satu sebab, mengapa orang tidak mementingkan ‘’pemerintahan’’ tetapi justru mereka cukup puas mendirikan kantor-kantor dagang.

Hal ini berobah waktu tetangga mereka dari Eropa, yaitu orang Spanyol, juga ingin menjadi tetangga mereka di Hindia, karena pada bulan Nopember 1512 mereka mendarat di Tidore, pulau yang bermusuhan dengan Ternate.

Di bawah pimpinan Fernando de Magelhaen—atau Magellaan—mereka telah menemukan jalan laut yang baru ke pulau-pulau rempah-rempah Hindia ,melalui yang sekarang di sebut selat Magellaan, kepulauan Philipina, dan kepulauan Sangihe Talaud.

Dengan penemuan ini orang Portugis sama sekali tidak senang dan menganggap pendudukan orang Spanyol di Maluku sebagai tindakan yang mungkin tidak sah. Karena, untuk mengendalikan persaingan antara Spanyol dan Portugal, maka Paus Alexander VI telah menarik garis batas terkenal, yang menentukan bahwa dari daerah-daerah yang baru ditemukan, bagian yang terletak di sebelah timur garis itu kepada Spanyol.

Dalam perjanjian Tordesillas pada tanggal 7 Juni 1494, satu dan lain hal, tulis Brilman, diuraikan lebih lanjut oleh kedua raja yang bersangkutan dan garis batas ditentukan pada 370 mil sebelah barat dari kepulauan Tanjung Verde dan pulau-pulau Asur.

Menurut pembagian ini Maluku terletak di bagian yang ditentukan kepada Portugal, yang sejak saat itu bertindak lebih kuat. Dalam bulan Februari 1522 sebuah armada Portugis mendarat di bawah komando Antonio de Britto di pulau Banda, yang tiba pada bulan Mei berikutnya di Ternate dan pada tanggal 24 Juni tahun itu juga sudah dimulailah pembangungan suatu benteng.

Doktor Denny JA, dalam artikelnya yang berjudul “Inilah Perusahaan Terkaya Dalam Sejarah” yang dilansir situs IndonesiaBrita mengungkapkan, di abad ke-17, Eropa sedang dilanda demam menjelajah samudra. Ekspedisi pelayaran sebuah kapal menjadi tambang bisnis besar, memberi kekayaan luar biasa, namun beresiko. Kapal itu dapat berlayar bertahun- tahun ke wilayah yang terjauh.

Namun usaha pelayaran memiliki resiko yang besar pula. Sangat mungkin ekspedisi itu tak pernah kembali lagi. Kapal tenggelam di tengah laut karena badai. Atau kapal dirampok bajak laut. Terlalu beresiko jika hanya segelintir individu saja yang membiayai ekspedisi.

Di tahun 1600, Kerajaan Inggris yang pertama kali membangun usaha ekspedisi pelayaran itu. Namun di tahun 1602, Johan Van Olden Barnavelt berhasil meyakinkan pemerintah Belanda. Didukung oleh pemerintah, Johan mendirikan sebuah usaha yang menyatukan beberapa perusahaan sekaligus. Mega korporasi ini diberi nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).

Perusahaan dagang tersebut awalnya mengeksplorasi wilayah India untuk perdagangan tekstil dan sutra. Namun kekayaan rempah-rempah di wilayah sekitar lebih menjanjikan.

Sampailah kemudian VOC ke aneka wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, Banten, Ambon Maluku, Aceh, hingga Makasar, dan Sangihe Talaud. Bahkan Jakarta (dulu Batavia) menjadi ibu kota VOC untuk wilayah Asia.

Penulis adalah Wartawan Politik

IKLAN Sukseskan Manado Fiesta 2020