IKLAN

Selain Atasi Krisis Listrik, Ini Manfaat Lain Kapal Asal Turki di Sulut Menurut Sumarsono


Penjabat Gubernur Sulut, Soni Sumarsono saat melihat langsung kedatangan Kapal PLTG Karadeniz Powership Zeynep Sultan asal Turki yang tiba di pelabuhan Amurang pekan lalu.

Penjabat Gubernur Sulut, Soni Sumarsono saat melihat langsung kedatangan Kapal PLTG Karadeniz Powership Zeynep Sultan asal Turki yang tiba di pelabuhan Amurang pekan lalu.

MANADO – Kapal Pembangkit Listrik atau Marine Vessel Power Plant (MVPP) Karadeniz Powership Zeynep Sultan asal Turki menjadi jawaban dan bentuk perhatian dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan kondisi kekurangan pasokan daya listrik yang sejak beberapa tahun lalu menjadi kendala utama dikeluhkan masyarakat Sulawesi Utara.

Kapal berbobot besar itu disewa PT PLN dari Turki telah tiba di PLTU Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara pecan lalu.

Penjabat Gubernur Sulut, Soni Sumarsono bersama pejabat teras Pemprov Sulut memantau langsung kapal PLTG berkapasitas 120 MW tersebut. Dirjen Otda Kemendagri itu berharap kapal pembakit listrik tersebut terinstal dengan baik agar bisa bermafaat bagi warga Bumi Nyiur Melambai dan Gorontalo.

Dengan krisis teratasi, manfaat lain dengan keberadaan kapal tersebut kemajuan industri di Sulut bisa  terangsang. “Semoga memberikan manfaat besar bagi masyarakat Sulut dan Gorontalo untuk 5 tahun mendatang dengan terbebas dari pemadaman listrik dan merangsang pengembangan industri untuk kemajuan sosial-ekonomi Sulut,” kata Sumarsono.

Menurutnya, untuk mengoperasikan kapal pembangkit Zeynep Sultan 120 MW ini, masih dibutuhkan waktu penyesuaian baik dari sisi Karpower maupun di sisi transmisi milik PLN.

“Diperkirakan butuh waktu antara 1-2 minggu sebelum pembangkit ini benar-benar beroperasi,” jelas Sumarsono.

Sementara itu, Kapten M Luthfi mengemudikan kapal Kapal Karadeniz Powership Zeynep Sultan menceritakan proses pelayarannya hingga bisa tiba di Amurang.

Menurutntamenurutnya, ini menjadi sebuah pengalaman yang tidak tak terlupakan. Kapal pembangkit listrik ini cukup besar dengan bobot tinggi, sehingga untuk mengemudikannya cukup sulit.

“Untuk kapal pembangkit ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri dibandingkan dengan kapal lainnya,” ujar Maritime Advisor Kapten M Luthfi.

Kapal Karadeniz Powership Zeynep Sultan harus mengambil jarak yang cukup jauh, untuk berbelok karena bebannya yang cukup berat.

Begitu pula untuk kecepatannya hanya 8,5 knot sampai dengan 9 knot. Kecepatannya tidak bisa lebih, karena kalau terlalu cepat nantinya bisa berpengaruh kepada alat-alat di pembangkit.

Selama perjalanan selepas dari Tanjung Priok sampai dengan Amurang badai dengan gelombang 4-5 meter selalu mengiringi dalam perjalanan, dengan awan cumulonimbus yang membawa angin dan hujan. Namun demikian karena panjang kapal 165 meter, ombak tidak terlalu membuat kapal goyang.

“Ketika depan kapal terkena ombak, belum selesai ombak melewati kapal, sudah ada ombak lainnya. Sehingga tidak terlalu bergoyang,” tutur pria yang sudah 16 tahun menjadi nahkoda. Kru kapal yang berjumlah 24 orang seluruhnya telah memiliki sertifikat internasional, untuk melayarkan kapal. (anto/tribunnews)

IKLAN
loading...