IKLAN

Soal Proyek Liandok, Jawaban Dirut PT Andrekon Cipta Pratama Ini Bikin Hakim Marah


Sidang Liandok, saat pembacaan dakwaan.

Sidang Liandok, saat pembacaan dakwaan.

MANADO – Dalam Sidang Lanjutan Tipikor Proyek Rumah Transmigran dan Jamban Keluarga, Direktur Utama PT Andrekon Cipta Pratama Elfian Pangalila katakan tidak tahu apa-apa tentang proyek tersebut Desa Liandok.

Itu diakuinya di depan Majelis Hakim yang diketuai Jemmy Lantu Elfian yang dihadirkan sebagai saksi dalam perkara korupsi RTJK Liandok, Jumat (29/01) di Pengadilan Negeri (PN) Manado.

Dalam kesaksiannya, semua pertanyaan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yosephus Sepdiandoko SH, Penasehat Hukum terdakwa, dan Majelis Hakim, selalu dijawab Elfian tidak tahu. Baik ditanyai mengenai pencairan dana, penandatanganan kontrak, hingga proses pengerjaan. Saksi bahkan mengakui kalau dirinya tidak pernah turun langsung ke lokasi proyek.

Jawaban saksi yang serba tidak tahu itu, sontak membuat Hakim Lantu berang “Jadi dalam proyek RTJK Liandok itu saudara tidak tau apa-apa. Termasuk pencairan, penandatanganan dan proses pengerjaan? Meskipun saudara cuma sebagai Dirut Boneka yang diangkat ayah mertua saudara, masak kamy tidak tau keseluruhan proyek tersebut. Secara konsekuensi hukum kamu bisa dijadikan tersangka, paham kamu. Setiap persidangan kamu harus hadir, agar jelas posisi kamu sebagai tersangka atau saksi” sembur Lantu. Seusai mendengarkan keterangan Elfian, Majelis Hakim tunda sidang hingga pekan depan masih dengan agenda yang sama.

Kasus ini menyeret tigak orang terdakwa yakni Joel Ch Kumajar, Jefry Prang dan Denny Kondoy. Ketiganya oleh JPU didakwa bersalah karena pada tiga tahun lalu, terlibat dalam proyek RTJK di Desa Liandok, dimana berdasarkan DIPA-026.06.4.179026/2013 telah dianggarkan sebesar Rp6.753.475.000, dan direvisi lagi lewat DIPA nomor DIPA-026.06.4.179036/2013 dengan jumlah Rp6.666.439.000.

Sayangnya, dana yang digunakan untuk proyek RTJK untuk 100 unit tipe 36, terpakai hanya sebesar Rp3.478.500.000. Sementara itu, PT Andrekon Cipta Pratama, adalah pemenang tender atau pelaksana proyek.

Dari keganjilan tersebut, pintu masuk melakukan penyidikan lebih lanjut, semakin dikembangkan. Alhasil, dari pemeriksaan ahli terungkap kalau proyek RTJK malah terdapat kekurangan pekerjaan.
Dimana, tiang utama 10/10 kayu klas III, blok atas 5/10 kayu klas III, rangka dinding tegak 5/10 Ky klas III, skur 5/10, kusen pintu dan jendela, sedangkan untuk dinding papan hanya 40%, atap seng gelombang BJL 20-90%, bumbungan seng 90%, dan pekerjaan yang lain yang tercantum dalam kontrak tetapi tidak dilaksanakan, sehingga bobot pekerjaan RTJK yang dilaksanakan Elfian Pangalila PT.Andrekon Cipta Pratama hanya mencapai 65.05%.

Herannya, terdakwa Kondoy yang merupakan mertua dari Elfian Pangalila (Dirut PT Andrekon Cipta Pratama), langsung mengajukan permohonan pembayaran 100%, dan disetujui terdakwa Kumajar selaku PPK dan terdakwa Prang selaku Kuasa Pengguna Anggaran. Terdakwa Kondoy pun menerima pembayaran termin III (100%) sebesar Rp1.042.478.400 dengan retensi (5%) sebesar Rp162.887.250 melalui rekening PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk cabang Manado.

Akibat perbuatan tersebut, terciptalah kerugian negara sebesar Rp2.491.577.176,26. Dan ketiga terdakwa ikut dijerat JPU dengan pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI No 31 tahun 1999. (ekaputra)

IKLAN
loading...