IKLAN

Terkait Dugaan Amoral Wadir Ratumbuysang, BKD Sebut Lagi Konfrontasi Semua Pihak


Kepala BKD Sulut Femmy Suluh

Kepala BKD Sulut Femmy Suluh

MANADO-Lagi, kasus dugaan perbuatan amoral terjadi dikalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Kali ini beredar kabar panas di telinga gedung putih Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut), oknum Wakil Direktur (Wadir) dan Keuangan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof Dr V.L Ratumbuysang berinisial HP (50-an), terhadap salah satu stafnya berinisial RA atas laporan suami RA ke Gubernur Olly Dondokambey, sementara ditindaklanjuti Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulut.

Kepala BKD Sulut Femmy Suluh kepada Manadoline Rabu (28/9) sore ini menyebut oknum dan korban telah diperiksa dan satu tahap lagi yaitu akan lakukan konfrontasi semua pihak.

Ketika ditanyai, kapan konfrontasi dilakukan? Suluh mengakui belum mesti cari waktu agar semua bisa hadir.

“Kebetulan minggu kemarin semua sibuk dengan kegiatan HUT Provinsi,”jelasnya saat dihubungi Via WhatsApp karena sedang rapat di Jakarta.

Lanjutnya, kasus ini akan diusut hingga tuntas. Jika terbukti bersalah, oknum Wakil Direktur dan Keuangan RSJ Ratumbuyssang akan mendapatkan sanksi,” tegas Femmy menambahkan, asas praduga tidak bersalah tentunya selalu dikedepankan.

Terpisah, Wakil Gubernur Sulut Steven Kandou belum lama ini mengatakan, pihak BKD Provinsi akan segera menuntaskan dugaan kasus amoral itu.

“Ya, hasil pemeriksaan yang dilakukan BKD jika terbukti, tentunya ada sanksi, tapi kita gunakan asas praduga tak bersalah,”tegas Kandouw.

Terungkap……

Diketahui, kasus dugaan amoral terbongkar setelah aduan suami dari RA ke Gubernur Sulut Olly Dondokambey. Pasalnya, oknum HR dituduh melakukan perbuatan amoral yakni menganggu istri sah dari pelapor.

Bukti pelapor terhadap laporan yang dilayangkan ke Gubernur itu berupa percakapan keduanya melalui media sosial (facebook dan BBM).

Dimana dalam percakapan dibahas bukan masalah tugas-tugas kantor dan tak menunjukkan antara staf dan pimpinan, tetapi sudah mengarah ke hal-hal negatif.

Menurut pelapor, kronologisnya pada 24 Maret 2016 sekira pukul 11.19 Wita, istrinya menerima pesan singkat dari HR lewat inbox facebook.

Pesan dimaksud hanya berbentuk gambar jempol atau like. Pesan tersebut tidak ditanggapi istri pelapor.

Sekira Pukul 11.41 2ita, HP kembali mengirim pesan berbentuk pertanyaan singkat kalau istri pelapor tinggal dimana dan dijawab sesuai fakta tinggal di Sario Tumpaan. Obrolan tersebut oleh pelapor masih dianggap wajar.

Pada 10 April HP kembali mengirim pesan singkat isinya pujian foto istri pelapor.

Obrolan ini terus berlanjut dengan berbagai pertanyaan dari HP dan mengarah kesesuatu tidak beres. Dimana HP meminta istri pelapor kalau bisa melayaninya dengan obrolan-obrolan apa saja karena bersangkutan sering tidur sampai larut malam.

Pesan dari HP lewat BBM terus berlanjut bahkan semakin tidak sopan.

HP secara terang-terangan mengutarakan keinginannya untuk bertemu istri pelapor diluar jam kantor.

Tidak hanya sebatas menemaninya dalam obrolan, tetapi sudah mengarah ke sesuatu hal yang menurut pelapor sangat tidak sopan dan tak wajar disampaikan seorang pejabat negara.

Lanjut pelapor ulah dari HP sudah sangat jauh dari tindakan beretika dan sudah sangat meresahkan pelapor dan istrinya.

Apalagi pelapor bekerja di Batam. Secara jarak sangat jauh dengan istrinya yang ada di Manado.

Terpisah, Pengamat Pemerintahan Sosial dan Pemerintahan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Jefry Paat mengungkapkan kasus tersebut semestinya sebagai pejabat tidak lakukan perbuatan amoral.

Ia beralasan ada 3 hal yang harus diperhatikan, yakni pertama
dia sebagai pejabat dalam arti bahwa dia harus berikan pengayoman pembinaan kepada bawahannya tapi kalau itu tidak lakukan, dia sudah melanggar sumpah tanggung jawabnya.

Kedua, sebagai individu berperilaku harus berikan contoh kepada bawahan agar menunjukkan moral baik. Kalau tidak dilaksanakan orang ini perlu ditinjau baik soal jabatan dan perilaku sebagai ASN.

Ketiga, sebagai orang tua tentu harus melakukan perbuatan lebih baik dalam arti merasa saudara dan teman.

“Itu kan punya niat tertentu terhadap orang lain. Walaupun hanya sebatas media sosial bbm contohnya. Pertama Ia coba-coba kalau ada respon berarti ada niat, timbul niat itu. Walaupun begitu sudah ada niat, sebab sebagai atasan tidak harus melakukan pertanyaan seperti itu terlalu jauh terhadap bawahan,”jelas Paat kepada Manadoline, Rabu (28/9).

Kalau memang pribadi dia kelihatan buruk berarti sudah terbiasa lebih dari satu niat yang tidak baik, ini bisa karena kebiasaan dan bisa karena kebiasaan muncul karena ada sesuatu dibalik itu.

Alternatifnya, orang seperti ini, untuk perbaikan karakter dia ada 2 hal yakni perlu pengawasan internal. Kalau memang korban merasa terganggu akibat perbuatan itu yakni amoral ini bisa dilaporkan pihak berwajib, karena ada perbuatan yang tidak menyenangkan walaupun hanya via bbm/facebook.

(srikandi/tim)

IKLAN
loading...