IKLAN

Warga Mengeluh Keterbatasan Fasilitas RSU Kotamobagu


 

RSU Pobundayan Kotamobagu. (f-manadoline)

RSU Pobundayan Kotamobagu. (f-manadoline)

KOTAMOBAGU – Sarana masih menjadi kendala serius yang dihadapi Rumah Sakit Umum (RSU) Pobundayan Kotamobagu saat ini. Faktor ini adalah hal serius yang tengah dihadapi rumah sakit milik pemerintah tersebut. Salah satu contoh kasus yang kerap terjadi saat ini adalah kematian ibu dan anak masih sering terjadi di wilayah Kota Kotamobagu. Minimnya fasilitas serta belum tersedianya ruang operasi membuat kendala bagi para dokter yang ditempatkan di rumah sakit tersebut.

Banyak ibu yang akan dioperasi saat akan melahirkan tak bisa ditanggulangi karena tidak adanya fasilitas. “Pemerintah diminta untuk lebih perhatian terkait fasilitas di rumah sakit yang ada. Termasuk ruang operasi segera difungsikan,” kata Amon Paputungan, warga Kopandakan II, Jumat (1/5). Menuurut warga, sering terjadinya kasus kematian ibu dan anak, karena kurangnya penyediaan fasilitas di rumah sakit.

Ketua LSM LPKEL Reformasi Efendy Abdul Kadir menilai dengan sering terjadinya kematian ibu saat melahirkan, akibat kurangnya perhatian pemerintah untuk menyediakan fasilitas. “Ini patut disayangkan. Kalau memang rumah sakit Kotamobagu rencananya akan dibuat rumah sakit rujukan, tentu ini harus ada perhatian,” kata Efendy.

Apa terlebih kata Efendy, banyak warga miskin yang dirujuk ke rumah sakit, malah terabaikan karena tidak tersedianya fasilitas. “Percuma pemerintah siapkan rumah sakit, tapi banyak wara harus masuk rumah sakit swasta. Inikan aneh,” tambahnya.

Dr Sitti Korompot salah satu dokter kebidanan rumah sakit Kotamobagu ketika disinggung soal itu tak menampik. Menurutnya, kasus kematian ibu kerap terjadi karena belum ditunjang dengan peralatan operasi yang ada di rumah sakit. “Ya mau apalagi. Semua bisa dilakukan asalkan fasilitas sudah tersedia. Termasuk peralatan rumah sakit serta ruang operasi yang sudah akan difungsikan,” kata dia.
Menurutnya, seperti kasus kematian ibu yang melahirkan dan kemudian meninggal yang terjadi pada 2014 lalu. Di mana, kasus ini meninggal akibat keterlambatan rujukan.

Kasus ini ternyata telah dilaporkan dan telah dibahas di PIT Hogsi Banjarmasin Februari 2015. Sitti menceritakan, Ibu tersebut awalnya masuk RSUD Datoe Binangkang Kotamobagu pada 29 Nopember 2014 silam atas rujukan bidan desa, dengan diagnosis G3P2A0. Ibu tersebut dirujuk ke RSUD Datoe Binangkang karena ruang yang tersedia penuh tidak ada tempat.
Pasien akhirnya dibawa ke UPTD RSUD Kota Kotamobagu. Namun ditolak juga, karena tidak tersedianya ruang operasi. Pasien dikonseling ke RS Kinapit Kotamobagu namun keluarga serta pasien menolak karena alasan biaya. (yoan)

IKLAN
loading...