Imbas Peralihan Premium Ke Pertalite, Kenaikan Tarif Angkot Jadi Polemik di Sangihe

Manadoline.com, Tahuna- Dialihkannya BBM (Bahan Bakar Minyak) Premium ke Pertalite oleh PT Pertamina sejak awal November 2021 di Kabupaten Kepulauan Sangihe, kini menimbulkan masalah di kalangan masyarakat. 


Masyarakat mengeluhkan dengan adanya pengumuman dari Persatuan Sopir Angkot Kota Tahuna (Pesat) menaikkan tarif angkot dalam Kota Tahuna di media sosial, yang dinilai ilegal. Karena hanya berdasarkan koordinasi dengan pihak terkait, tapi tidak menyertakan tandatangan maupun cap dari pemerintah daerah. 


Didalamnya tertulis keterangan tentang nominal harga jarak jauh-dekat, untuk Dewasa Rp 4500, dan Anak Sekolah Rp 3000. Dari tarif awal Dewasa Rp 3500, dan Anak Sekolah Rp 2000.
Kepala Dinas Perhubungan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe menegaskan bahwa keputusan dari Pesat ilegal, karena menurutnya pihak Dishub belum memberikan persetujuan apapun kepada mereka. 

Kadis Perhubungan Kabupaten Kepulauan Sangihe Frans G Porawouw menegaskan bahwa keputusan tersebut adalah ilegal, dan menghimbau masyarakat tidak perlu mematuhinya.


“Terkait kenaikan tarif angkot bukan ranahnya Dishub. Tapi mungkin karena adanya kenaikan BBM, akan berdampak pada pendapatan teman-teman sopir. Tetapi perlu kita jelaskan bahwa, tarif yang diberlakukan yakni tarif yang lama. Sambil menunggu instruksi atau peraturan dari Gubernur atau Bupati terkait dengan penyesuaian tarif,” katanya.


“Permasalahan yang menjadi viral sekarang, ada teman-teman dari Pesat yang membuat surat terkait dengan hasil koordinasi dan Dishub, bahwa itu tidak benar. Memang mereka ada datang kemarin ke Dishub, tapi saya ga ada. Dan mereka datang ke sini bukan ada pembicaraan kesepakatan. Tetapi mereka datang ke sini membawa surat permohonan ke Bupati yang sudah ditentukan, tanpa ada kajian. Dan kenaikan yang sekarang ini adalah ilegal,” sambungnya. 

Ketua Pesat Stirman Peliwuhang.


Sementara itu Ketua Pesat Stirman Peliwuhang saat dikonfirmasi terkait surat edaran tersebut menyampaikan bahwa hal itu merupakan dampak dari pengalihan BBM Premium ke Pertalite. 


“Sebelumnya saya mau minta maaf kepada masyarakat pengguna jasa moda transportasi angkutan kota, terkait dengan masalah tarif yang dikeluarkan oleh Pesat. Tetapi pada dasarnya apa yang kami keluarkan ini, akibat kondisi peralihan Premium ke Pertalite. Jadi suka tidak suka, dari kami profesi sopir karena sudah terdampak akibat pengalihan, maka kami harus mengeluarkan tarif meskipun tidak resmi. Namun kami jelaskan juga di edaran itu, sambil menunggu keputusan resmi dari pemerintah,” jelasnya. 


Pesat merasa kecewa dengan lambatnya respon dari pemerintah melalui Dinas Perhubungan, untuk menyelesaikan permasalahan kenaikan tarif. Padahal aspirasi dari para sopir sudah mendesak adanya kenaikan tarif. 


“Ada kekecewaan dari kami para sopir  ke Dinas Perhubungan karena tidak cepat merespon apa yang kami sampaikan lewat aspirasi teman-teman sopir. Padahal sebelum adanya peralihan ini, kami sudah sampaikan agar secepatnya ada keputusan resmi yang dikeluarkan,” ujarnya.


“Kami berharap pemerintah terkait adanya permasalahan ini, bisa menindaklanjuti secepatnya. Agar kami mendapatkan kepastian dan masyarakat pengguna moda transportasi juga mendapatkan kepastian tarif. Sehingga permasalahan ini segera terselesaikan,” pungkasnya.